Selasa, 08 Mei 2012
Tracer Study untuk Stakeholders
Minggu, 04 Desember 2011
Selasa, 22 November 2011
Library 2.0
Oleh:
Sri Ati Suwanto**)
Abstrak
Perpustakaan elektronik sudah merebak di Indonesia, baik itu perpustakaan Hibrida, maupun Digital. Tetapi yang telah melakukan layanan dengan konsep ‘Library 2.0’ (Perpustakaan 2.0) dapat dihitung dengan jari. Itupun belum sepenuhnya Perpustakaan 2.0. Pengertian Perpustakaan 2.0 adalah perpustakaan yang benar-benar beorientasi kepada pemakai, yang mendorong perubahan secara terus menerus, mengkreasikan layanan baik fisik maupun maya sesuai dengan keinginan pemakai, dan didukung dengan evaluasi layanan secara konsisten. Perpustakaan yang berorientasi kepada pemakai sangat dibutuhkan saat ini, agar perpustakaan tetap dikunjungi oleh pemakai. Oleh karena itu, artikel ini berusaha mengungkapkan jenis-jenis layanan yang dikembangkan dengan konsep ‘library 2.0, dengan menggunakan menggunakan metode tinjauan literatur. Hasil yang didapat dari penelitian ini adalah bahwa konsep Library 2.0 sudah ada yang diterapkan di beberapa perpustakaan. Layanan-layanan tersebut antara lain ditandai dengan adanya: Chat Reference, Blog dan wikis, jaringan sosial dalam perpustakaan, seperti Faceebook, MySpace, Flikr, RSS Feed, dan lain-lain.
Dengan adanya artikel ini diharapkan dapat menambah pengetahuan pustakawan dan calon pustakawan tentang bagaimana memberikan layanan terbaik di perpustakaan.
4. Kesimpulan
Library 2.0 adalah perpustakaan yang berorientasi pada pemakai dan dikendalikan oleh pemakai seutuhnya, yang menganjurkan perubahan yang beralasan dan terus menerus, dengan mengundang partisipasi pemakai dalam mengkreasikan layanan, baik secara fisik maupun maya sesuai dengan keinginan mereka, dan didukung oleh evaluasi layanan secara konsisten. Library 2.0 adalah penerapan teknologi yang didasarkan pada Web multimedia yang interaktif, kolaboratif, pada layanan perpustakaan dan koleksi yang berdasarkan Web.
Ciri paling jelas dari library 2.0 adalah terjadinya relasi interaktif, multiarah, dan partisipatif antara pengguna dan pustakawannya, serta sistem kerja dan koleksi yang bersifat kolaboratif (dari banyak sumber) selalu dinamis. Praktik library 2.0 di Indonesia dapat ditandai dengan mulai berkembangnya software sistem otomasi perpustakaan (SOP). Baik yang bersifat gratis (open source, seperti ”Senayan” dan ”Athenaeum Light”) maupun yang berbayar.
Ciri-ciri layanan Library 2.0 adalah ditandai dengan adanya layanan-layanan :
1) ‘Chat Reference’ atau ‘Instance messaging’ yaitu layanan yang dapat langsung berbungan dengan pustakawan secara On-line, tanpa menunggu waktu untuk mendpatkan balasannya.
2) Media Streaming, yaitu salah satu bagian dari layanan Chat Reference, yang menambahkan pangkalan data tutorial dengan bahan ajar On-line ( Peer Reviewed Instructional Material Online / PRIMO). Dalam prakteknya dapat dilakukanan dengan penambahan layanan Repository Digital.
3) Blog dan Wikis. Blogs untuk perpustakaan-perpustakaan merupakan bentuk lain dari publikasi. Wiki utamanya adalah halaman Web yang terbuka, dimana setiap orang yang terdaftar dengan Wiki dapat mempublikasikannya, mengembangkannya dan merubahnya. Hal tersebut dapat merubah kepustakawanan, pengembangan koleksi yang kompleks dan instruksi keberaksaraan informasi (information literacy).
4) Jaringan sosial. MySpace, Facebook, Del.icio.us, Frappr dan Flickr, adalah jaringan kerja yang telah menikmati popularitas besar-besaran dalam Web 2.0. Jaringan sosial lain yang patut dilakukan di perpustakaan adalah ‘LibraryThing’ yang memungkinkan pemakai mengkatalog buku mereka sendiri dan melihat apa yang dilakukan pemakai lain men-share-kan buku tsb.
5) Tagging (Pe-ngetag-an). Dalam Library 2.0 pemakai dapat me-ngetag koleksi perpustakaan dalam katalog dengan menambahkan kata (Subjek) yang umum dipakai di masyarakat, tanpa membuang subjek yang telah dibuat pustakawan; dan oleh karenanya pemakai berpartisipasi dalam proses pengatalogan. Pe-ngetag-an (Tagging ) membuat penulusuran tambahan menjadi lebih mudah.
6) RSS Feed. RSS Feeds dan teknologi lainnya yang semacam memberikan kepada pemakai suatu cara untuk mempersatukan dan mempublikasikan kembali isi dari situs lain atau blogs, mengumpulkan isi dari dari situs lain ke dalam suatu tempat tersendiri. Setelah perpustakaan mengkreasikan RSS Feeds untuk pemakai untuk melanggannya, termasuk meng up-date artikel-artikel baru dalam suatu koleksi, layanan baru, dan isi baru dalam pangkalan data langganan, perpustakaan tersebut juga mempublikasikan kembali isi dari situs mereka.
7) Mashups. Mashup adalah aplikasi yang dicangkokkan, dimana dua atau lebih layanan digabung ke dalam satu layanan yang benar-benar baru. Library 2.0 adalah mashup. Mashup tersebut adalah suatu blog hibrida (suatu blog yang dihasilkan dari 2 sistem yang berbeda), wikis, media streaming, pengumpul isi, berita instant, dan jaringan sosial. Library 2.0 mengingatkan pemakai ketika mereka masuk (Log-in) kedalam suatu sistem. Library 2.0 memperbolehkan pemakai mengedit data OPAC dan metadata, menyimpan tag pemakai, surat menyurat instant dengan pustakawan, memasukkan data wiki dengan pemakai lain, dan mengkatalog semua tentang hal tsb. dengan pemakai lain.
Model spesifik dari Perpustakaan 2.0 akan berbeda untuk setiap perpustakaan. Setiap perpustakaan mempunyai titik permulaan yang berbeda. Melalui kolaborasi antara staf dan pemakai, akan dapat mengembangkan ide yang jelas tentang bagaimana model ini dapat bekerja untuk perpustakaan Anda.
DAFTAR PUSTAKA
1.Casey, Michael E. dan Laura C. Savastinuk, 2006. Library 2.0 :Service for the
next-generation library-- Library Journal, 9 Januari.
2.Levine, Jenny .January 30, 2006. Library 2.0 in the Real World. ALA Tech Source.
www.ALA TechSource.
3.Miller, Paul. 2005. Web 2.0: Building the New Library, Ariadne Issue, No.45,
Oktober.
4.Jack M., Maness , 2006. Library 2.0 Theory: Web 2.0 and Its Implications for
Libraries Webology, Volume 3, No. 2, June.
5.Pendit, Putu Laxman, 2009. Perpustakaan Digital : Kesinambungan dan dinamika.
Jakarta: Cita Karya Mandiri.
6.Shanhi, R. ( 2006 ) . Web 2.0: data, metadata, and interface, dalam Maness, Jack
M. Library 2.0 Theory: Web 2.0 and Its Implications for Libraries , Webology,
Volume 3, Number 2, June, 2006
7.Sulistyo-Basuki, 1993. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama.
8.Sudarsono, Blasius, 2009. Menerapkan konsep Perpustakaan 2.0. Makalah disampaikan
pada Workshop Libray 2.0: Challenge and opportunities to Library management,
Semarang , Jurusan Ilmu Perpustakaan, Universitas Diponegoro
------------------
Untuk artikel lengkap silahkan kirim email ke : tikasuwanto@gmail.com
Rabu, 24 Agustus 2011
Tracer Stusy
TRACER STUDY
JURUSAN ILMU PERPUSTAKAAN
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2011
Jl. Prof. Soedharto, Tembalang,
Telp. 024-76480619
www.jip-fib.undip.ac.id
Kepada Yts. Alumni Jurusan Ilmu Perpustakaan UNDIP,
bersama ini kami sampaikan kuesioner tracer study kepada seluruh Stakeholder. Kami sangat berharap Bapak/Ibu dapat meluangkan waktu untuk mengisi kuesioner ini. Hasil dari kuesioner ini akan kami gunakan untuk persiapan Akreditasi dan merencanakan perbaikan sistem pembelajaran di Jurusan Ilmu Perpustakaan UNDIP.
Mohon hasil pengisian kuesioner ini dikirimkan melalui e-mail putut3@undip.ac.id atau jipundip@gmail.com. datang langsung ke Jurusan Ilmu Perpustakaan.
IDENTITAS ALUMNI
1. Nama Lengkap :
2. Tempat Tanggal Lahir :
3. Instansi :
4. Alamat Rumah :
Telp.
5. Alamat Kantor :
Telp.
6. Nomor Handphone :
7. Alamat E-mail :
8. Alamat Facebook :
KONDISI WAKTU STUDI
1. Lama studi di UNDIP : ............ semester
2. Berapakah Indeks Prestasi Kumulatif kelulusan yang dicapai : ...............
3. Apakah Saudara berorganisasi ketika masih menjadi mahasiswa di UNDIP?
a. Iya
Organisasi apa, sebutkan …………………………….……………………………………………………….........
b. Tidak
Berikan Alasannya ……………………………………………………………………………………………………..
RIWAYAT PEKERJAAN
1. Lama menunggu pekerjaan :
a. < 6 bulan c. > 12 – 18 bulan
b. > 6 - 12 bulan d. > 18 bulan
2. Sumber informasi pekerjaan diperoleh dari :
a. Media Cetak c. Teman e. Orang Tua/Saudara
b. Media Elektronik d. Alamater/Fakultas f. Lainnya ...................
3. Gaji pertama Anda (Rp) :
a. < 1 juta c. > 3 - 5 juta
b. > 1 – 3 juta d. > 5 juta
4. Apakah aktivitas pekerjaan anda saat ini secara langsung berkaitan dengan bidang perpustakaan?
a. Ya, sebutkan ………………………………………………………………………………………………………
b. Tidak
5. Apakah materi yang anda peroleh di Jurusan Ilmu Perpustakaan sesuai dengan bidang yang anda tekuni?
a. Terpenuhi c. Kurang
b. Cukup d. Sangat Kurang
6. Apakah Anda akan merekomendasikan jurusan Ilmu Perpustakaan UNDIP sebagai pilihan bagi saudara/teman dalam memiilih jurusan di perguruan tinggi?
a. Iya
b. Tidak, dengan alasan …………………………………………………………………………………………
7. Apabila Jurusan Ilmu Perpustakaan UNDIP membuka Program S2 Ilmu Perpustakaan, apakah Anda akan melanjutkan jenjang pendidikan di UNDIP?
a. Iya
b. Tidak, dengan alasan memilih Univeristas lain
(UI, UNPAD, UGM, UIN SunanKalijaga)* di lingkari
c. Alasan lain …………………………………………………………………………………………………………
Bagi alumni yang waktu studi di Jurusan Ilmu Perpustakaan berasal dari Program Reguler II (Lintar Jalur) mohon meneruskan ke pertanyaan berikut ini:
8. Apa yang menjadi motivasi Anda untuk meneruskan studi di jurusan Ilmu Perpustakaan UNDIP?
a. Mencari keilmuan di bidang perpustakaan
b. Untuk menunjang karir
c. Alasan lain, sebutkan …………………………………………………………………………………………
MASUKAN BAGI JURUSAN ILMU PERPUSTAKAAN UNDIP
1. Apakah materi pendidikan di Jurusan Ilmu Perpustakaan UNDIP bermanfaat untuk pekerjaan Anda?
a. Ya, seluruhnya
b. Ya, sebagian (...........%)
2. Menurut Anda bekal tambahan apa yang diperlukan bagi lulusan Jurusan Ilmu Perpustakaan UNDIP untuk mendukung pekerjaan (soft skills):
a. ……………...………..………..........................................
b. ……………...………..………..........................................
c. ……………...………..………..........................................
d. ……………...………..………..........................................
3. Saran untuk Jurusan Ilmu Perpustakaan UNDIP:
a. Pengembangan institusi (Internal dan Eksternal):
b. Pengembangan kurikulum (mata kuliah, praktek, teori, dan beban SKS):
c. Pengembangan infra struktur dan sarana prasarana *) Sejak bulan Maret 2011 semua aktivitas perkuliahan telah pindah dari kampus Pleburan ke Tembalang
d. Pengembangan kemahasiswaan :
Rabu, 29 Juni 2011
Minggu, 23 Januari 2011
Sabtu, 08 Januari 2011
Hasil penelitian : Pemanfaatan Sistem Temu Kembali Informasi di layanan Local Content UPT Perpust UNDIP : Studi kasus Th 2009
A. Pendahuluan
Penelitian ini mengkaji pemanfaataan sistem informasi perpustakaan khususnya sistem simpan dan temu balik informasi di UPT Perpustakaan Universitas Diponegoro berdasarkan persepsi pemakai. Dalam hal ini akan dikaji lebih lanjut apakah penerapan sistem teknologi informasi temu balik sudah memenuhi harapan pemakai atau belum Tujuan penelitian ini secara umum adalah untuk mengetahui pemanfaatan sistem temu balik informasi oleh pemakai untuk menemukan kembali informasi yang dibutuhkan;
Tujuan khusus penelitian ini adalah mengkaji persepsi pemakai terhadap pemanfaatan Sistem Temu Balik Informasi di lembaga tersebut di atas dan apakah mereka puas terhadap layanan Local Content.
Populasi dalam penelitian ini adalah pemakai Layanan Penelusuran atau Temu kembali informasi di UPT Perpustakaan UNDIP. Jumlah pengunjung di UPT Perpustakaan UNDIP rata-rata per hari 200 orang. Menurut Singarimbun, jika penelitian menggunakan statistk non parametrk maka sampel 10 %, sudah cukup mewakili. Oleh karena itu jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 10 % dari 200 pengunjung = 20 orang.
Objek penelitian ini adalah : Pemakai Layanan Penelusuran Informasi UPT Perpustakaan UNDIP dan Sistem Temu Kembali Informasi.
Sedangkan subjek penelitiannya adalah :
• Koleksi perpustakaan dan,
• Persepsi Pemakai
Metode penelitan yang digunakan adalah kuesioner tertutup, wawancara tidak terstruktur dan observasi untuk memperoleh gambaran lengkap tentang efektifitas system temu kembali di UPT Perpustakaan UNDIP. Pengolahan data dilakukan dengan analisa kuantitatif dan kualitatif. Analisa kuantitatif digunakan untuk mengetahui efektifitas system, dan analisa kualitatif untuk mendeskripsikan persepsi pemakai terhadap sistem informasi perpustakaan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden menyatakan bahwa mereka sebagian besar memanfaatkan perpustakaan, dan menyatakan cukup puas terhadap sistem informasi yang digunakan di UPT Perpustakaan UNDIP,khususnya pada layanan Local Content, terutama pada kejelasan dan kemudahan sistem, keakuratan dan kesesuaian hasil penelusuran, tetapi hanya sebagian kecil responden yang menyatakan puas dan sangat puas terhadap sistem layanan ini. Disamping itu sebagian besar responden juga menyatakan cukup puas terhadap koleksi yang dilayankan, baik pada cara penyajian, kecepatan layanan, maupun terhadap kandungan koleksi Local content atau repository, dan hanya sebagian kecil yang menyatakan puas dan sangat memuaskan terhadap koleksi yang dilayankan.
Rabu, 11 Maret 2009
New issues: LIBRARY 2.0.
Konsep Library 2.0 diambil dari Business 2.0. dan Web 2.0. yang diadopsi dari Web 2.0. Konsep Library 2.0 ini pertamakali diperkenalkan oleh Michael Casey pada th.2005, adalah suatu konsep yang di definisikan untuk memodernisir bentuk layanan perpustakaan yang lebih beroientasi kepada pemakai/pemustaka dan mengikuti beberapa filosofi yang mendasarinya, termasuk layanan Online yang menggunakan sistem OPAC, dan meningkatkan kelancaran arus informasi dari pemakai kembali ke perpustakaan.
Fokusnya adalah perubahan orientasi kepada pemakai dan partisipasi pemakai untuk menciptakan konten dan komunitas. Dengan Library 2.0. layanan perpustakaan tetap ter-update dan dievaluasi ulang untuk memberikan layanan terbaik kepada perpustakaan.
Ati S.
Blog master
Senin, 09 Maret 2009
PERPUSINFO
Buku baru dari Putu Laxman Pendit ini membahas fenomena yang amat menarik dari peradaban manusia berbasis teknologi komputer. Isinya penjelasan yang mendalam dan serius, tentang seluk beluk dan karakteristik Perpustakaan Digital. Dalam buku ini Putu Pendit gigih mempertahankan pendapat bahwa Perpustakaan Digital adalah perpustakaan juga.
Putu Pendit juga menegaskan bahwa Perpustakaan Digital adalah wujud dari sebuah dinamika yang mengakomodasi kemajuan-kemajuan teknologi. Jika pustakawan tak mampu mengadopsi kemajuan teknologi, jangan salahkan masyarakat yang membiarkan perpustakaan teronggok di keranjang sampah informasi
Buku ini terdiri dari 6 bab, yang padat-berisi, menjawab berbagai pertanyaan teknis maupun teoritis, mulai dari model-model pengembangan perpustakaan masa kini, spesifikasi teknologi yang dibutuhkannya, pelestarian pustaka digital, sampai profesionalisme dan kondisi infrastruktur. Buku ini kiranya adalah buku wajib bagi mereka yang berminat mengembangkan Perpustakaan Digital dan bagi masyarakat umum yang tertarik untuk memanfaatkan Perpustakaan Digital untuk berbagai kepentingan organisasi, komunitas, maupun masyarakat yang lebih luas.
tika_swt
| Reaksi: |
Kajian Pemakai
Sebenarnya kata Kajian Pemakai merupakan terjemahan dari User Studies. Di dalam bahasa Indonesia ada yang menterjemahkannya menjadi studi tentang pemakai,dan yang umum digunakan adalah Kajian Pemakai. Menurut Powell (1994: 21- 34), ada dua istilah untuk mengkaji pemakai, yaitu 1) House survey of users, kajian bagi pemakai yang menjadi anggota suatu perpustakaan, dan 2) Community analysis, kajian untuk pemakai baik yang menjadi anggota maupun bukan anggota perpustakaan. Kemudian Sulistyo-Basuki membagi jenis pemakai berdasarkan sosio-profesional (pekerjaannya) menjadi tiga bagian utama, yaitu :
a) Pemakai yang belum terlibat dalam kehidupan aktif pencarian informasi, seperti mahasiswa;
b) Pemakai yang mempunyai pekerjaan tetap, dan bidang-bidang spesialis tertentu, seperti pegawai negeri, (yang masih dapat dikelompok-kelompokkan lagi, seperti teknisi, asisten, administrator, dll.), profesional (dosen, dokter, pengacara), dan industriawan;
c) Pemakai umum, yang memerlukan informasi umum untuk keperluan khusus.
Studi tentang pemakai menurut Suyanto, dalam Suwanto (2000, 382 – 391), merupakan kajian secara sistematis terhadap karakteristik dan perilaku pemakai informasi berkenaan dengan interaksinya dengan sistem informasi. Sedangkan yang dimaksud dengan sistem informasi di sini dapat berarti lembaga-lembaga yang melayani penelusuran informasi, baik itu perpustakaan, pusat-pusat dokumentasi dan informasi, maupun suatu sistem informasi di dalam komputer dengan menggunkan pangkalan data-pangkalan data baik pangkalan data lokal maupun pangkalan data ekstern atau pangkalan data dari luar lembaga tersebut. Menurut White (1993), sebuah kajian bisa dinamakan kajian pemakai bila kajian tersebut merupakan kajian yang tidak terfokus pada apa yang dikerjakan perpustakaan tetapi pada apa yang dikerjakan oleh orang-orang bila mereka membutuhkan informasi. Dari pernyataan White ini maka tersirat makna bahwa kajian pemakai adalah kajian tentang orang-orang yang membutuhkan informasi, bukan kajian tentang apa yang dilakukan oleh lembaga informasi. Lingkup kajian pemakai bukan hanya berada di perpustakaan tetapi juga di luar perpustakaan, yang menurut Powel (1994: 21- 34), disebut Community Analysis. Dengan demikian semua kajian tentang pemakai di luar perpustakaan, baik di Warnet-warnet, di kafe-kafe dengan menggunakan Laptop masing-masing, maupun di dalam kampus-kampus tetapi di arena Hotspot, dapat disebut Community Analysis.
Menurut Savoleinen (dalam Vakkari dan Cronin, 1992: 153) kegiatan pencarian dan penggunaan informasi serta penciptaan dan pengolahannya adalah kegiatan Sense-making yang dipengaruhi oleh faktor-faktor internal dan eksternal individu yang bersifat subyektif. Faktor-faktor tsb. antara lain pendapat, evaluasi dan situasi. Sedangkan Kajian Pemakai adalah kajian terhadap faktor-faktor internal dan eksternal tsb. untuk menyibak kegiatan sense-making.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kajian pemakai adalah kajian yang mempelajari faktor-faktor internal dan eksternal manusia baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyakat dalam hubungannya dengan sistem informasi.
LANDASAN PEMIKIRAN DAN KAJIAN SEBELUMNYA
Kajian pemakai timbul akibat adanya perubahan cara memandang informasi, yaitu dengan munculnya paradigma kognitif yang berlawanan dengan paradigma fisik. Paradigma fisik memandang informasi sebagai sesuatu yang objektif, berada di luar manusia, dan dapat disentuh. Sedangkan paradigma kognitif memandang informasi sebagai sesuatu yang subyektif, individual, dan tidak dapat disentuh (Dervin: 1983). Paradigma fisik berkonsentrasi pada peran dan sumbangan perpustakaan kepada perpustakaan dan keterlibatannya dalam proses budaya dan sosial. Paradigma kognitif berkonsentrasi pada sistem komunikasi informasi yang melihat perpindahan informasi dari pencipta atau pengarang ke pemakai yang dilihat dari sisi temu balik informasi atau yang lebih dikenal dengan penelusuran informasi. Paradigma ini menempatkan pemakai sebagai bahan kajian yang berkaitan dengan aspek kognisi yang terjadi pada pemakai. Paradigma kognitif inilah yang akhirnya melahirkan suatu pendekatan dalam ilmu perpustakaan dan informasi yang disebut dengan Kajian Pemakai (Pendit, 1993: 1-3).
Dalam hubungannya dengan aspek kognitif, Belkin (1985: 11-19) menyebutkan bahwa kebutuhan informasi muncul karena adanaya kesenjangan dalam struktur pengetahuan manusia untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Kesenjangan ini disebut
Menurut Kuhlthau (1991: 362), dalam pencarian informasi dikenal adanya rangkaian aktivitas yang dinamakan Information Searching Process (ISP). Dalam proses ini secara umum ada enam pola pencarian informasi,yang urutannya sbb.: inisiasi, seleksi, eksplorasi, formulasi, koleksi, dan presentasi dari informasi yang telah ditemukannya. Lebih lanjut Kuhlthau (1991: 362), menggambarkan proses ISP ini dalam tabel sebagai berikut :
Tabel 1
INFORMATION SEARCH PROCESS
| Tahap-tahap dalam ISP | Perasaan yang muncul dalam suatu tahap | Pola pikir yang muncul | Tindakan yang biasa dilakukan |
| 1. Inisiasi | Ketidakpastian | Umum/samar-samar | Mencari informasi latas belakang |
| 2. Seleksi | Optimisme | Penuh pertimbangan | Berdiskusi, memulai seleksi |
| 3. Eksplorasi | Kebingungan/frustasi, keraguan | - | Mencari informasi yang relevan |
| 4. Formulasi | Kejelasan | Lebih sempit/lebih jelas | - |
| 5.Pengumpulan (Koleksi) | Keyakinan | Peningkatan rasa tertarik | Mencari informasi secara lebih terfokus |
| 6. Presentasi | Lega, Puas atau bisa juga kecewa | Lebih jelas, lebih terfokus. | - |
Di samping pola pencarian informasi seperti yang digambarkan oleh Kuhithau seperti di atas, masih ada pola-pola lain yang dikelompokkan berdasarkan strata, tata nilai dan kedudukan si pencari informasi seperti yang ditemukan leh Palmer (1991) dan Elli, Cox, dan Hall (1993).
TUJUAN KAJIAN PEMAKAI
Menurut Ford ( dalam Darmono & Ardoni, 1994: 25) tujuan kajian pemakai adalah untuk memahami proses perpindahan informasi dan semua implikasinya untuk semua bentuk lembaga informasi, dan penyebaran informasi yang berhubungan dengan sistem. Secara rinci tujuan kajian pemakai dirumuskannya sbb.:
a) untuk menjelaskan fenomena yang dikaji;
b) untuk memahami perilaku pemakai,
c) untuk memperkirakan dan mengantisipasi perilaku pemakai;
d) untuk mengontrol fenomena dan menumbuhkan pemanfaatan informasi dengan memanipulasi kondisi-kondisi yang dianggap penting.
Berdasarkan bidang kajiannya Sulistyo-Basuki (1992: 204-205) menyebutkan tujuan kajian pemakai memiliki tiga tujuan komprehensif, yaitu:
a) Analisis kebutuhan; yang dikaji yaitu jenis dan sifat informasi yang dicari dan diterima, dari titik pandangan kuantitatif dan kualitatif.
b) Analisis perilaku informasi; yang mengkaji bagaimana kebutuhan informasi dipenuhi.
c) Analisis motivasi dan sikap; yang mengkaji nilai-nilai yang dinyatakan pemakai, baik diungkapkan secara terbuka maupun tersembunyi tentang informasi dan aktivitas yang berhubungan dengan citra pemakai tentang jasa dan spesialis informasi.
ASPEK-2 KAJIAN PEMAKAI
Berdasarkan pengelompokan tujuan yang dilakukan oleh Ford (dalam Darmono dan Ardoni, 1994: 28 – 29), maka ada beberapa aspek yang dapat dilakukan , yaitu :
a) Sumber informasi
Kajian tentang sumber informasi telah banyak dilakukan terutama untuk menguji keterpakaian koleksi . Kajian ini kadang-kadang dapat dibandingkan dengan jenis koleksi yang berbeda dan membahas alasan penggunaan jenis koleksi tertentu.
b) Pemakaian informasi
Kajian ini biasanya meneliti motivasi pemakaian informasi dan cara mencari informasi yang dibutuhkan, serta tenggang waktu antara batas waktu man dengan pemanfaatan secara nyata.
c) Ciri-ciri informasi
Kajian tentang ciri-ciri informasi mengelompokkan pemakai berdasarkan tingkat kebutuhan, perilaku, latar belakang dan pekerjaan pemakai. Karakteristik dalam bentuk tipologi pemakai akan dapt memberikan gambaran dengan cara pemetaan perlaku dan kebutuhan dengan mengidentifikasi tipe-tipe mereka.
d) Sistem-sistem (tata nilai) dari pemakai
Kajian ini meneliti hubungan antara sistem atau tata nilai pemakai dengan perilaku mereka dalam mencari informasi yang dibutuhkan. Sistem dan tata nilai yang berpengaruh antara lain sistem kebudayaan, sistem politik, teman-teman sewaktu kuliah (invisible college ), organisasi formal, dan sistem ekonomi di masyarakat.
e) Interaksi antara pemakai dengan sistem informasi.
Kajian ini diarahkan pada proses interaksi antara pemakai dengan sistem yang ada di perpustakaan atau di pusat-pusat informasi. Yang menjadi perhatian utama adalah sikap dan perilaku pemakai.
METODE-METODE KAJIAN PEMAKAI
Untuk melakukan suatu kajian atau penelitian tentunya memerlukan metode.
Metode yang digunakan untuk kajian pemakai sekarang ada pergeseran cara dari metode kuantitatif ke metode kualitatif, dengan metode pengumpulan datanya kuesiner dan wawancara, serta observasi. Lebih lanjut
a) Penyelidikan langsung ( termasuk penggunaan kuesioner dan wawancara) untuk pengamatan layanan-layanan yang ada
b) Metode eksperimental, untuk mendapatkan umpan balik observasi langsung
c) Metode kuesioner (dengan pertanyaan yang terbuka) untuk menilai sikap yang dikaitkan dengan layanan.
d) Observasi / pengamatan langsung.
Di samping metode-metode tsb. di atas yang masih bersifat umum, tidak tertutup kemungkinan adanya metode-metode lain untuk kasus-kasus dan kondisi tertentu.
*) Oleh Sri Ati Suwanto

